BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan
sosial
Pengertian
perkembangan sosial adalah sebuah proses interaksi yang dibangun oleh seseorang
dengan orang lain. Perkembangan sosial ini berupa jalinan interaksi anak dengan
orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat
secara luas. Perkembangan sosial adalah proses belajar mengenal normal dan
peraturan dalam sebuah komunitas. Manusia akan selalu hidup dalam kelompok,
sehingga perkembangan sosial adalah mutlak bagi setiap orang untuk di pelajari,
beradaptasi dan menyesuaikan diri.
Pengertian perkembangan sosial menurut beberapa ahli
Perkembangan sosial adalah kemajuan
yang
progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan
sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes. Hal itu disebabkan oleh
adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan warisan sosial itu.
Menurut
Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam
bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi
di masyarakat.
Singgih
D Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan manusia sejak lahir, dewasa,
sampai akhir hidupnya akan terus melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan
sosialnya yang menyangkut norma-norma dan sosial budaya masyarakatnya.
Abu
Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak manusia itu
lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak tersenyum saat
disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara anak dan
lingkungannya.
Jadi,
dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya kepada
pertumbuhan yang bersifat progresif. Seorang individu yang lebih besar tidak
bersifat statis dalam pergaulannya, karena dirangsang oleh lingkungan sosial,
adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan kelompok dimana ia sebagai salah satu
anggota kelompoknya.
1.
Bentuk – Bentuk Tingkah
laku Sosial
Dalam perkembangan
menuju kematangan sosial, anak mewujudkan dalam bentuk-bentuk interkasi sosial
diantarannya :
1. Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan.
Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau
tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak.
Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada
usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.
Sikap orang tua terhadap
anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala,
tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai
proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
2. Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang
balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan
salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak terpenuhi
kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang
seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya.
Sebaiknya orang tua
berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan
perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka
egretifitas anak akan semakin memingkat.
3. Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi jika
anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
4. Menggoda (Teasing)
Menggoda merupakan
bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap
orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang
menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
5. Persaingan (Rivaly)
Yaitu keinginan untuk
melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai
terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan prestice dan pada usia enam
tahun semangat bersaing ini akan semakin baik.
6. Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap mau bekerja
sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal
empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang
dengan baik.
7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu tingkah laku untuk
menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap
ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
8. Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap egosentris
dalam memenuhi interest atau keinginannya
9. Simpati (Sympaty)
Yaitu sikap emosional
yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau
mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.
2.
Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Sosial Anak
Perkembangan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor yaitu :
1.Keluarga
Keluarga merupakan
lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek
perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses
pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak
ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain
banyak ditentukan oleh keluarga.
2. Kematangan
Untuk dapat
bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu
mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam
berbahasa juga sangat menentukan.
3. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak
dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku
anak akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh
keluarganya.
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan
proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses
pengoperasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak
didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
5. Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat
banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah,
dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan
sosial anak. Anak yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa
dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan
sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial anak.
3.
Pengaruh Perkembangan
Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan
sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain. Pemikiran itu
terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik
dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran dirinya tidak akan
diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada yang menyembunyikannya atau
merahasiakannya.
Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang
menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang
tuanya. Kemampuan abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan
kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya
menurut alam pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya
berupa :
1. Cita-cita dan
idealism yangbaik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan
akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin
menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan berfikir
dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain daalm penilaiannya.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi
pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja
sudah sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.
B.
Pengertian
kepribadian
Kepribadian
yaitu keseluruhan pola ( bentuk) tingkah laku,sifat-sifat,kebiasaan kecakapan
bentuk tubuh serta unsur-unsur pokok fisik lainnya yang selalu menanmpakan diri
dalam kehidupan seseorang.
Kepribadian adalah bagian dari jiwa
yang membangun keberadaaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah
dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self atau
memahami manusia seutuhnya. Hal terpenting yang harus diketahui berkaitan
dengan pemahaman kepribadian adalah bahwa pemahaman itu sangat dipengaruhi paradigma
yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan teori itu sendiri. Para ahli
kepribadian ternyata meyakini paradigma yang berbeda-beda, yang mempengaruhi
secara sistematik seluruh pola pemikirannya tentang kepribadian manusia.
Paradigma itu pada sebagian ahli kepribadian dikemukakan dengan tegas, pada
sebagian yang lain paradigmanya tersamar dan dikenali melalui metode
analisisnya (Alwisol, 2007).
Adapun
pengertian kepribadian yaitu:
a. Bahwa
kepribadian adalah organisasi yang dinamis artinya suatu organisasi yang
terdiri dari sejumlah aspek atau unsur yang terus tumbuh dan berkembang
sepanjang hidup manusia.
b. Semua
aspek kepribadian,baik sifat-sifat maupun kebiasaan,sikap,tingkah laku,bentuk
tubuh merupakan suatu sistem dalam menentukan cara yang khas dalam mengadakan penyesuaian diri terhadap
lingkungan.
Makna
perkembangan Kepribadian menurut “Freud” adalah,belajar tentang cara-cara untuk
mereduksi tegangan atau tekakanan.dia memandang bahwa masa 5 athun sangat
penting dalam perkembangan kepribadian
Tokoh Teori Perkembangan Kepribadian
1.
Sigmund Freud
Freud adalah teoritisi pertama yang
memusatkan perhatiannya kepada perkembangn kepribadian dan menekankan
pentingnya peran masa bayi dan awal-anak dalam membentuk karakter seseorang.
Freud yakin bahwa struktur dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun
dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakn
elborasi dari struktur dasar tadi. Anehnya, Freud jarang sekali meneliti anak
secara langsung. Dia mendasari teorinya dari analisis mengeksplorasi jiwa
pasien antara lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa
kanak-kanaknya.
Freud membagi perkembangan
kepribadian menjadi 3 tahapan yakni
a.
tahap infatil (0 – 5 tahun)
Tahap
infatil yang faling menentukan dalam membentuk kepribadin, terbagi menjadi 3
fase, yakni fase oral, fase anal, dan fase falis. Perkembangan kepribadian
ditentukan oleh perkembangan insting seks, yang terkait dengan perkembangan
bilogis, sehingga tahp ini disebut juga tahap seksual infatil. Perkembangan
insting seks berarti perubahan kateksis seks dan perkembangan bilogis
menyiapkan bagian tubuh untuk dipilh menjadi pusat kepuasan seksul (arogenus
zone). Pemberian nama fase-fase perkembangan infatil sesuai dengan bagian tubuh
daerah erogen-yang menjadi kateksis seksual pada fase itu.
b. tahap laten (5 – 12 than)
Pada tahap laten, impuls seksual
mengalami represi, perhatian anak banyak tercurah kepada pengembangan kognitif
dan keterampilan. Baru sesudah itu, secara bilogis terjadi perkembangan puberts
yang membangunkan impuls seksual dari represinya untuk berkembang mencapai
kemasakan. Pada umumnya kemasakan kepribadian dapat dicapi pada usia 20 tahun
(Anonim, 2010).
c.
tahap genital (> 12 tahun).
2.
Carl Gustav Jung
Perkembangan kepribadian menurut pandangan
Carl Gustav Jung lebih lengkap dibandingkan dengan Freud. Jung beranggapan
bahwa semua peristiwa disebabkan oleh sesuatu yang terjadi di masa lalu
(mekanistik) dan kejadian sekarang ditentukan oleh tujuan (purpose). Prinsip
mekanistik akan membuat manusia menjadi sengsara karena terpenjara oleh masa
lalu. Manusia tidak bebas menentukan tujuan atau membuat rencana karena masa
lalu tidak dapat diubah. Sebaliknya, prinsip purposif memubat orang mempunyai
perasan penuh harapan, ada sesuatu yang membuat orang berjuang dan bekerja.
Dari keduanya dapat diambil sisi positifnya, kegagalan di masa lalu bukan
dijadikan beban tapi dijadikan pengalaman yang kemudian digunakan sebagai
stimuli untuk belajar lebih baik dari kegagalan tersebut. Terlepas dari kegagalan
seseorang harus memiliki angan, impian dan harapan, hal inilah yang kemudian
mengarahkan pada tujuan yang akan diraih di masa mendatang.
Tahap-tahap perkembangan menurut
Jung terdiri atas 4 tahap. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Usia anak (Childhood). Usia anak dibagi menjadi 3 tahap, yakni anarkis pada anak kesadaran masaih kacau pada usia 0-6 tahun, tahap monarkis yakni anak ditandai dengan perkembangan ego, mulai berfikir verbal dan logika pada usia 6-8 tahun, tahap dualistik yakni anak dapat berfikir secara obyektif dan subyektif terjadi pada usia 8-12 tahun.
- Usia Pemuda. Pemuda berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya.
- Usia Pertengahan. Ditandai dengan aktualisasi diri, biasanya sudah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memiliki pekerjaan, kawin, punya anak dan ikut dalam kegiatan sosial.
- Usia Tua. Fungsi jiwa sebagian besar bekerja secara tak sadar, fikiran dan kesadaran ego mulai tenggelam (Anonim, 2010).
3.
Erik H. Erikson
Teori Erikson dikatakan sebagai
salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan.
Alasan yang pertama, karena
teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan
ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya
perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran
kehidupan, dan yang ketiga/terakhir
adalah menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan
pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan
kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.
Melalui teorinya Erikson memberikan
sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan
suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang
dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu,
teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian
yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia.
Bagi Erikson, dinamika kepribadian
selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan
pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa
yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya
dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan
seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang
berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan
psikologis. Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan dalam teori
psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan genital,
diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga dimasukkannya
cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk
oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.
Pusat dari teori Erikson mengenai
perkembangan ego ialah sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang
merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan
setiap manusia. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun
sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah
dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu
bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetik. Di mana Erikson
dalam teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian kata yaitu: (1) Pada
dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian
dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu
dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling
mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas. (2) Masyarakat, pada
prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap
individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha
menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan di
dalam tahap-tahap yang ada (Mariani, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock B Elizabeth, Developmental Psikologi; Mc Grow Hill, Inc,
1980, Alih Bahasa,
Istiwidayanti dan suedjarwo, Psikologi Perkembangan suatu pendekatan
sepanjang
Rentang Kehidupan, Jakarta, Erlangga, tt.
LN Yusuf Syamsu; Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,
Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Nurihsan Juntika, 2007, Buku Materi Pokok Perkembangan Peserta
didik , Bandung; Sekolah
Pasca
Sarjana (UPI)
Santrock, John W, Life-Span Development, WM, C Brown Comunication,
Inc, 1995, Alih
bahasa Achmad Chusairi, S.PSI, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta,
Erlangga,
2002.
Suryabrata Sumadi, Psikologi Pendidikan; (PT Raja Grafindo, :
2004).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar